Monday, September 3, 2012

Ajaran Islam Ajaran, Hukum dan Aturan Agama Islam dengan Dalil Alqur'an dan Hadits Nabi Muhammad SAW Sifat Takabur dan Pengobatannya dalam Islam



Takabur adalah salah satu diantara dosa-dosa yang besar. Allah melarang kita berperilaku takabur. Allah telah berfirman : 

 “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar”. (QS. 7 : 46). 

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. (QS. 16 : 23). 

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”. (QS. 40 : 35). 

Gejala-gejala sombong sangat banyak ragamnya. Di antaranya ialah besar diri, menghina orang lain, tidak mau menurut nasihat orang lain yang benar, tidak mau disamakan dengan orang lain dan lain sebagainya. Rasulullah SAW memberi penjelasan mengenai gejala-gejala sifat sombong, diantaranya ialah tidak mau tunduk kepada barang yang hak. 

Beliau bersabda :

 الكبر بطر الحق وغمط الناس 

“Takabur adalah menolak barang yang hak dan menghina serta meremehkan orang lain”. 

Berdasarkan pengertian hadits di atas, maka orang-orang yang tidak mau tunduk atau menurut ia adalah orang yang sombong. Demikian pula seseorang yang menghina atau meremehkan orang lain. 

Adapun faktor yang menyebabkan seseorang berlaku sombong, mungkin dikarenakan seseorang merasa dirinya lebih istimewa dari pada orang lain, baik dari segi pengetahuannya, pekerjaannya, keturunannya, kekayaannya, pangkatnya, kekuasaannya, banyaknya para pengikuti, atau kecantikannya. Gejala terakhir ini kebanyakan berlaku di kalangan kaum wanita. 

Takabur dapat menimbulkan malapetaka pada masyarakat. Sejarah telah membuktikan bahaya perbuatan ini bagi masyarakat yang tak terhitung banyaknya. Sifat takabur tumbuh dari perasaan egoisme yang menyolok, membuat dari kita tidak mau mencintai orang lain atau membaktikan diri pada masyarakat. 

Takabur adalah sumber segala kedengkian dan persengketaan di antara individu-individu di dalam masyarakat. Mengagungkan diri atau menghina orang lain akan membentuk sifat yang amat tercela, yaitu membuat pelakunya merasa benci terhadap orang lain. 

Sifat takabur ini dapat merusak diri sendiri, karena penyebab utamanya ialah perasaan kagum terhadap dirinya sendiri. Barang siapa merasa kagum terhadap dirinya, ia akan besar kepala; tidak mau mendengar nasihat orang lain dan keras kepala dengan pendapatnya sendiri, sehingga akan menyeret pelakunya kepada kerugian. 

Takabur atau sombong terhadap orang lain, lama kelamaan akan bersikap takabur terhadap Allah. Apabila sudah sampai ke taraf ini, berarti kerusakan yang nyata bagi pelakunya. Ketika iblis takabur terhadap nabi Adam dengan perkataannya : “Aku lebih baik dari padanya (Adam)”. Akhirnya ia berbuat takabur terhadap Allah dan melanggar perintah-Nya. Ia tidak mau bersujud kepada Adam, akhirnya ia terkutuk selama-lamanya. Lalu Allah mengusir Iblis dari surga. 

Berikut ini ayat Al-Qur’an yang menceritakan tentang pengusiran Iblis dari surga : “Allah berfirman : Turunlah kamu dari surga ini; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. 7 : 13). 

Rasulullah SAW melarang kita berbuat takabur dan beliau menjelaskan bahwa dosa takabur adalah besar. Beliau bersabda :

 بينما رجل ممن كان قبلكم يجر ازاره من الخيلاء خسف به, فهو يتجاجل فى الارض الى يوم القيامة (رواه البخارى

“Tersebutlah seorang lelaki dari orang-orang sebelum kamu, ia menyeret selendangnyadenganrasa takabur. Akhirnya ia disiksa Allah timbul tenggelam di dalam perut bumi sampai hari kiamat”( Hadits riwayat Bukhari). 

Di antara sabda-sabda Rasulullah mengenai perbuatan takabur ialah :

 ان الله لا ينظر الى من يجر ازاره بطرا لا يدخل الجنة من كان فى قلبه مثقال ذرة من كبر, قيل يا رسول الله : ان الرجل يحب ان يكون ثوبه حسنا ونعله حسنا, قال : ان الله جميل يحب الجمال, الكبر بطر الحق وغمط الناس (رواه مسلم

“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi rahmat-Nya kepada orang yang suka menyeret selendangnya karena sombong. Tak akan bisa masuk surga seseorang yang dalam hatinyarasa takabur sekalipun seberat biji sawi”. Beliau ditanya : “Wahai Rasulullah, seseorang tentu menyenangi baju baik dan sandal yang baik”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah itu cantik dan mencintai kecantikan; yang dinamakan takabur ialah menolak barang yang baik, dan menghina orang lain”( Hadits riwayat Muslim). 

 لا يزال الرجل يتكبر ويذهب بنفسه حتى يكتب فى الجبارين فيصيبه ما أصابهم 

 “Seseorang yang terus-menerus berlaku takabur di mana saja berada, dalam tulisan amalnya ia akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang takabur sehingga ia akan mendapat (siksaan) seperti mereka.( Hadits riwayat Muslim )

 من نعظم فى نفسه واختال فى مشيته لقي الله وهو عليه غضبان (رواه الامام احمد

“Barangsiapa merasa besar diri dan berlaku sombong , kelak ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan marah kepadanya.( Hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam Khamsah ) 

Hadits terakhir ini sama dengan maksud firman Allah dalam Al-Qur’an berikut ini : 

 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. 31 : 18). 

Salah satu gejala sombong atau takabur, ialah apa yang kita lihat pada masa sekarang, di kalangan para pemilik kendaraan bermotor terutama sekali kaum muda. Mereka terlalu berlebih-lebihan dalam menghiasi kendaraan-kendaraan mereka, dan memakai klakson yang bersuara keras sehingga mengejutkan orang lain yang sedang istirahat atau yang sedang sakit. Sepak terjang mereka hanya terdorong oleh perasaan sombong tanpa menghiraukan keadaan orang lain. mereka tidak cukup sampai di situ saja, bahkan kenalpot kendaraan mereka dibuka sehingga suara mesin kendaraan membisingkan telinga, dan dengan kecepatan yang gila mereka suka melarikan kendaraannya sehingga membahayakan orang lain. semoga saja polisi bisa menertibkan gejala ini dan menindak para pelakunya demi lancarnya keamanan. 

Untuk pengobatan terhadap penyakit takabur ini, maka seseorang harus merenungkan asal kejadiannya. Ia harus ingat bahwa asalnya dari tanah, lalu dari setetes air mani yang hina. Sesudah menjalani kehidupan dalam batas-batas umur yang sudah ditentukan di dunia ini, ia akan mati dan terus dikubur. Kini, ia akan menjadi mayat. Siapa saja yang mau merenungkan hal ini dari awal sampai akhir ia tak mungkin bis berbuat sombong. 

Al-Qur’an mengajak umat manusia untuk merenungkan asal kejadiannya, dan menganjurkan agar hal itu dijadikan sebagai peringatan. 

Allah telah berfirman : “Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya?” Dari setetes air mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali”. (QS. 80 : 17 – 22) 

Salah seorang di antara kaum muslimin melihat Muhallab (dia adalah orang yang terkaya) berjalan dengan penuh sombong memakai jubbah yang terbuat dari kain sutera. Kemudian berkatalah ia menegur Muhallab: “Hai hamba Allah, cara jalanmu adalah cara yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya”. Muhallab menjawab : “Tidak tahukah engkau, siapa saya ini?”. Orang itu menjawab : “Ya, saya mengetahui siapa anda; asalmu adalah mani yang hina dan akhirmu adalah bangkai yang menjijikkan, hanya itulah yang kau andalkan”. Akhirnya Muhallab merasamalu terhadap dirinya sendiri, lalu ia meninggalkan kebiasaannya. 

Imam Hanafie berkata : “Alangkah mengherankan tingkah laku anak Adam yang takabur, sedangkan ia dikeluarkan dari dua jalan kencing (pertama dari ayahnya dan yang kedua dari ibunya)”. 

Apabila manusia menyadari hakikat dirinya, maka ia akan merasa betapa hinanya asal kejadian dirinya. Hal ini akan menjadi pendorong bagi dirinya untuk memberantas sifat sombong yang mengidap pada dirinya. Oleh karena itu, Al-Qur’an mengajak manusia agar memikirkan hal ini. 

Allah telah berfirman : “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (QS. 17 : 37).


No comments:

Post a Comment